Friday, November 25, 2016

EF 16.15: Simple Things That Moms Need


If you are a mom, you’ll understand quickly what my title means. We may think about the same things, such as me time, helpful husbands, and stuff. You may think of technology like smartphone and household appliances.

After more than a month living a life as a stay-at-home mom, I can feel every second and think clearly about what I do every day (if we work, time runs faster and we can barely digest what happened that day). Then, I feel so grateful for my life. The gratitude sometimes comes from things we didn’t notice because it’s so simple.

For me, here are the things:
1.     I wake up early but my son wakes up later than I do
     If I woke up at 5 (or earlier), I can do aerobic for 20 minutes, do my laundry, prepare something for breakfast, do the dishes –if there’s any. No, I don’t really sweep and mop unless the floor really needs it. After all is done, my son wakes up and I’m ready for him. Yeayyy…!
2.    My son takes a bath and has breakfast without any quarrel.
     Well, this is what I’m struggling with every day: asking him to take a bath and eat, and takes a nap. A good day means, he agrees to take a bath without I’m persuading him more than 15 minutes. Sometimes I use reward like gummy candies and it works for most of the time.
3.    Help from husband
     This can means: tidy up the bed, accompany our son when I’m so busy in the kitchen, or buy food if I’m too tired to cook. Anything I requested.
4.    Washing machine, sun rays, and softener
     I can’t explain why I love this combination and put them inside this list. It’s just washing, for God sake. For me, do the laundry using a washing machine and smell the fragrant of the detergent and the softener is really relaxing. I like to buy small sachet because I like to change the fragrant whenever I want. Don’t forget the sun rays. I become even more happier if all the laundry completely dry before Ashar. Yeayyy again…!

Well, it is simple right? I reconsidered to change the title Moms into “I”, but then I thought maybe some moms out there feel the same way.


What about you? You can write your simple things as a part of Blog English Club’s Friday Challenge, just like this post.

Thursday, November 17, 2016

Be Present, Solusi Cegah Anak Rewel


Semenjak memutuskan untuk resign, saya berniat untuk tidak kembali bekerja hingga saatnya melahirkan nanti. Sebetulnya lima bulan merupakan waktu yang panjang untuk kembali menjadi “pengangguran”, tetapi saya mempertimbangkan banyak faktor seperti kesehatan, repotnya memulai dari nol lagi di tempat kerja baru -itupun kalau ada yang mau mempekerjakan bumil dalam waktu singkat-, dan kembali meninggalkan Aksa di tangan orang lain selama saya bekerja. Hmm…faktor terakhir sebetulnya menjadi yang paling saya pikirkan. Kasihan juga Aksa hanya dapat “waktu sisa” dari ibunya. So, keputusan sudah bulat. Saya akan fokus di rumah.

Seperti masa-masa pascaresign yang sebelumnya, bisa bangun kapan saja itu suatu kenikmatan. Kalau dulu pada minggu kedua saya sudah resah karena merasa useless di rumah (waktu itu belum ada Aksa), kali ini saya bingung….mau ajak anak saya main apa? Sungguh, 24 jam itu waktu yang panjang untuk dihabiskan bersama seorang balita jika kita tidak punya rencana si anak mau diapakan. Apalagi saya juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik.

Saat saya masih jadi ibu rumah tangga dan Aksa masih berusia di bawah dua tahun, tampaknya bermain bersamanya tidak harus memutar otak seperti ini. Kalau mau tidur tinggal nenen saja, beres. Sekarang ketika ia sudah menjelang 3.5 tahun, kemampuan komunikasinya juga sudah semakin tinggi, waktu tidurnya berkurang, begitu juga dengan keinginannya yang makin beragam.

Ditambah lagi, semenjak pindah kesini, kami menjadi sedikit nomaden. Dua hari menginap di rumah ortu saya, hari berikutnya kembali ke rumah kontrakan, weekend di rumah mertua. Begitu kurang lebih yang terjadi setiap minggunya. Alhasil, “harta karun” Aksa tersebar di tiga rumah, haha.. Jadi, yang bisa saya lakukan hanyalah berimprovisasi ketika ia mulai bosan dan meminta video alias youtube.

 Kalau anak sudah minta video atau menyalakan tombol televisi, itu tandanya ia sudah bosan bermain…sendiri. Yap, betul. Terkadang ketika saya sibuk mencuci atau di dapur sementara Aksa bermain sendiri, saya sudah harus bersiap untuk bernegosiasi untuk tidak menyalakan televisi atau menonton video. Seringnya sih, anaknya sudah terlanjur rewel. Kalau sudah begini, saya hanya bisa memperbolehkan dengan batasan waktu, walau ketika waktunya habis dia belum bisa menepati janji. Akhirnya perang dunia deh.

Saya sempat berpikir, apa saya perlu membuat “lesson plan” aktivitas hariannya ya? Ada teman yang menyiapkan materi untuk anaknya, kurang lebih seperti homeschooling. Kalau mau lebih simple, browsing-browsing sedikit tentang aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak juga bisa. Masalahnya, semuanya hanya sampai tahap pikiran saja. Kenyataannya ya…hari-hari yang sama terulang lagi dan lagi, haha…klise banget ya..

Meskipun demikian, ada satu kunci yang lumayan bisa menjamin Aksa tidak terlalu sering minta gadget dan televisi (dan kemudian rewel jika kita batasi) : be there with him. Istilah lainnya yang pernah saya baca, be present. Jadi, ketika anak mulai melakukan aktivitas seperti bermain, kita ikut bermain bersamanya. Begitu juga ketika ia minta dibacakan buku, main bola, merangkai puzzle, dsb. Be present-nya lahir batin ya… Maksud saya, jangan sambil pegang hp atau lainnya. Jadi benar-benar bermain bersamanya.

Kalau saya temani terus, nanti ada saatnya ia tidak keberatan kita tinggal istirahat sebentar. Saya biasa meminta ijin dulu, misalnya: “Aksa, habis ini Mama tiduran sebentar ya di kamar, punggung mama capek”. Setelah anak sudah puas main dengan kita, biasanya sih ia akan asyik main sendiri tanpa kehadiran kita. Seperti me time kali ya… Sering juga yang terjadi malah sebaliknya, kita mau nimbrung tetapi tidak diijinkan, hehe..

Be present seperti di atas memang efektif mencegah anak menjadi cranky, tetapi tidak efektif jika pekerjaan rumah tangga menumpuk. Takutnya kita malah menjadi gampang tersulut emosi jika anak tidak menuruti keinginan kita. Raga di depan si kecil, tetapi pikiran di setrikaan yang menumpuk. Nanti kalau si kecil tidak mau diajak mandi, yang keluar dari mulut kita seperti, “Ayo donk nak, ibu masih belum nyuci nih, belum ini dan itu, bla bla bla..” Jadi ujung-ujungnya nyalahin anak deh.
Karena itu, saya berusaha langsung cus urusan domestik di pagi hari sebelum si anak bangun. 

Kebetulan akhir-akhir ini ia bangun agak siang. Tetapi kalau rejekinya kita lagi berat bangun pagi dan anaknya pas bangunnya lebih pagi, ya…tergantung situasi. Kalau terlihat agak rewel, ya ditemani dulu sampai suasanya hatinya membaik. Lauk sarapan bisa minta tolong si ayah belikan dulu, cucian bisa nunggu barang 30-60 menit, yang penting mood Aksa bagus. Soalnya, kalau anak bangun tidur sudah disambut muka riweuh sang ibu, anak pun jadi ketularan nggak tenang. So, peluk-peluk cium dulu agar si anak happy.

Untuk saat ini, be present bisa menjadi solusi. Namun mulai bulan depan, saya ingin agar saya juga be creative agar anak saya bisa bertambah juga kemampuannya meskipun ia belum bersekolah. Sudah saatnya saya melihat-lihat pinterest, youtube, ataupun blogwalking untuk mencari inspirasi kegiatan edukatif yang bisa dilakukan dengan Aksa. Begitu juga dengan cek milestones untuk usianya. Kesibukan kerja, dilanjut kehamilan dan pindah rumah membuat saya sedikit melupakan hal-hal tersebut. Yang di perut saja kadang dicuekin, yang penting si dedek tidak kelaparan.

So, mari singsingkan lengan baju! Ini self reminder, biarpun tidak bekerja, hidup tetap harus terencana dan berkualitas donk. Apalagi sudah ada anak. Jangan sampai masa emas terlewat gara-gara ibunya malas, hehe..





Friday, November 4, 2016

Ke Perpustakaan Bersama Anak

Kembali ke Jogja, berarti bisa lebih sering pergi ke perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang saya rutin kunjungi dulu adalah Perpustakaan Kota Yogyakarta alias Perpuskot, yang terletak di belakang Gramedia Jl Jend. Sudirman. Sengaja saya pilih hari kerja dan pagi hari untuk menghindari suasana yang terlalu ramai. Maklum, terakhir kali saya kesana awal 2016 sewaktu mudik, perpustakaan bagian anak ramai sekali. Karena hanya berupa ruang kecil berpartisi setinggi pinggang, saya pun tidak bisa leluasa membacakan buku untuk anak saya.

Selasa kemarin, saya, Aksa, dan ayahnya datang sekitar pukul 10 pagi. Parkiran motor sudah cukup ramai. Gazebo depan pun sudah terisi 50%, begitu juga dengan ruang baca lantai pertama. Saya langsung menuju resepsionis untuk mengaktifkan kembali kartu anggota saya yang sudah hilang semenjak saya pindah Bogor. Syukurlah, mereka berhasil menemukan akun saya dan memberikan kartu sementara. Mas petugasnya sempat takjub, saya mendaftar di urutan 161 alias masa-masa awal Perpuskot beroperasi. Ya iya lah, dulu ke perpus untuk mengisi masa-masa menganggur pasca lulus kuliah, sekarang kesini sudah sama balita. Sudah lamaaa sekali.

Singkat cerita, kami naik ke lantai dua. Tas sengaja tidak saya masukkan loker karena ukurannya kecil dan hanya berisi perlengkapan darurat semacam baju ganti anak, dompet, hp, dan biskuit mini. Tupperware saya bawa begitu saja.


Sofa diapit rak buku referensi
Begitu melihat bagian anak yang kosong, saya pun bersorak. Ini artinya saya dan Aksa bisa puas memilih dan membaca buku. AC-nya pun terasa dingin. Ternyata, suami dan anak sudah lebih dulu menemukan buku-buku bertema dinosaurus yang sedang digemari Aksa. Lumayan banyak, dari yang model pop-up, ensiklopedi, sampai yang minim ilustrasi untuk usia SD.

Sambil mencarikan buku Aksa, saya bisa mengamati lebih seksama koleksi buku anak yang ada. Koleksinya mayoritas buku terbitan dalam negeri. Buku referensi yang tebal dan terbitan baru diletakkan di rak khusus dekat sofa, sementara ensiklopedi jadul macam terbitan Widyadara diletakkan di rak display. Majalah anak semacam Bobo dan NatGeo Kids juga cukup banyak, sementara di sisi kiri pintu ada koleksi komik dan novel anak. Jadi, saya duduk di sisi kanan pintu yang lebih banyak buku cerita untuk balita hingga TK, termasuk boardbook. Ada juga buku impor walau hanya satu saf, kondisi masih bagus. Tampaknya usianya masih belum terlalu tua. Sementara buku pop-up sudah banyak yang rusak, bahkan ada buku yang pop-upnya hanya utuh di satu halaman saja. Memang perawatan buku semacam ini harus ekstra.

Ruangan yang cukup nyaman walau sempit

Yang diminati Aksa
Ada boardbook untuk batita semacam Halo Balita
Karena sudah mengantongi kartu anggota, saya pun mengambil dua buku berkode SR (hanya kode ini yang boleh dibawa pulang) dan turun ke lantai satu untuk mendaftarkan pinjaman. Sayang beribu sayang, komputer sedang bermasalah sehingga untuk sementara tidak bisa meminjam buku. Hiks..
Aksa pun mulai merengek minta biskuit karena lapar. Kami berdua pun keluar (ayahnya hanya mengantar lanjut ngantor) lalu menikmati biskuit sambil duduk di gazebo yang memang dipersiapkan untuk rehat sekaligus berinternet. Ini terlihat dari stop kontak yang tersedia berjajar, tong sampah di setiap gazebo, serta gerobak angkringan di dekat gerbang masuk. Dengan rerimbunan pohon yang cukup besar (daerah kotabaru didominasi bangunan Belanda dengan hehijauan yang cukup banyak) tidak heran tempat ini selalu ramai dikunjungi, khususnya oleh mahasiswa.

Tampak depan dan halaman parkir motor (mobil di luar gerbang)

Area gazebo yang teduh
Sambil menunggu dijemput, kami berdua pun masuk kembali ke perpustakaan. Saya meminta Aksa menemani saya melihat-lihat buku umum di lantai satu (walaupun saya juga ingin kembali ke lantai dua untuk menikmati majalah edisi terbaru, mulai dari Femina, Ayahbunda, hingga Intisari favorit saya). Namun Aksa yang gemar bertanya dan memanggil saya dengan suara nyaring jadi membuat saya tidak enak dengan pengunjung lain, hehe... Kalau ibunya mau menikmati perpustakaan, tampaknya anak harus dihandle ayahnya atau eyangnya ya...


Setelah dua jam di perpustakaan, saya dan Aksa pun pulang dengan senang. Cukup banyak buku yang saya bacakan untuknya tadi, hingga sinyal-sinyal bosan muncul. Lumayan, hari ini mengalihkannya dari gadget barang dua jam. Semoga bisa datang sebulan sekali, agar bisa jadi rutinitas namun tidak membosankan.

Wednesday, November 2, 2016

EF 16.14: About The Insurance


For me, this Friday Challenge topic is the most difficult topic ever. I planned to write my experience about insurance but it was too long to tell. Finally, I managed to make one. The due date was October 2, but hey I still want to write about it. I think it’s fine.

I used to have an insurance in 2005. I had it from the government along with an exchange program overseas. After I returned home, I deactivated the insurance. I was a student and I didn’t really understand what it’s for. My father had two actually, but in the end he had been disappointed by the insurance companies so he stopped both.

When I got married and moved to Bogor, one of my neighbors offered me to join Prudential. She explained quite clear about the benefit and when we would get the benefit of the insurance. At that time, I was interested but unfortunately my husband and I couldn’t afford the even the cheapest monthly payment. My husband’s office still covers some medical expenses for his family so we went on without having any extra insurance.

Now, in the era of BPJS, I and my family are covered by this government insurance. Just by paying less than Rp 100.000 a month for each family member, I feel quite safe. Although I seldom get the benefit directly (since I almost always go hospitals/clinics that don’t accept BPJS), at least I don’t feel worry if I got serious disease, which I don’t want that to happen. Some of my friends already got the benefit for their surgery and stuff, although it took months to wait.  

The last case, my sister’s baby was hospitalized in ICU. She hasn’t got the BPJS for the baby, because we didn’t know that we can apply for our baby when she's still in the womb. So, my sister's husband went to several government's offices and BPJS to make sure that he got backed up for paying the ICU (the daily cost is about 2-3 million rupiahs, and usually baby stays about 2 weeks minimum). After few days taking care of the documents, finally the baby is covered by Jamkesda. It is a kind of government's insurance and it depends on the regency's financial condition.

From this case, I conclude that insurance is really important, especially the medical one. If we can't afford the private one, we can use BPJS at least. For mother-to-be, don't forget to make an account for your baby in case my sister's case happens to us.